Pemilihan Petani Muda

Pendaftaran :
5 mei 2018 – 17 Agustus 2018
Info Lengkap kunjungi http://www.dutapetanimuda.id/

petani muda 1

Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan

rk ubud 1Ubud – Tanggal 13-15 April 2018 ini telah berlangsung Ubud Food Festival 2018 (UFF 2018) untuk ke empat kalinya di Ubud, Giayar, Bali. UFF merupakan festival kuliner bertaraf internasional. Kuliner merupakan salah satu sarana yang tepat untuk mengenal kekayaan Indonesia. Begitu juga dengan ragam kudapan nusantara yang disajikan dalam kesempatan cicip rasa pada UFF. UFF yang digagas oleh Janet Denefee tahun ini mengangkat tema ‘Generasi Inovasi’. Tema ini diangkat sesuai dengan perkembangan budaya makanan di Indonesia.

Separuh dari populasi penduduk Indonesia adalah generasi muda. Sebagai generasi milenial, mereka banyak melakukan inovasi. Baik inovasi makanan maupun cara mereka berbisnis makanan. Ajang ini untuk memperlihatkan bagaimana mereka telah melakukan inovasi kuliner,’ ungkap Janet Denefee, Direktur UFF.
Dalam UFF ini pengunjung dapat menyaksikan, belajar dan mencicipi berbagai makanan nusantara yang sensasionak serta berdialog dengan para ahli kuliner dalam dan luar negeri.

Festival ini juga dihadir oleh 100 ahli dari berbagai unsur, yaitu antara lain cheef, petani, barista, restauranteur, foodpreneur dan inovator dari 17 negara Asia Pasifik.

Deretan cheef ternama Indonesia seperti Ragil Imam Wibowo, Andrian Ishak, Rinrin Marinka, Rydo Anton, Putu Sumarjana, Kim Pangestu dan masih banyak lainnya hadir di acara UFF 2018.

Pada even internasional ini, Rumah Kedelai Grobogan (RKG) ikut menampilkan beberapa peroduk unggulannya, yaitu Tempe Hygiena, Egg Roll Kedelai, Stik Tempe, Stik Kedelai dan Aneka Brownis Kukus Non Gluten. Semua produk yang ditampilkan berbahan baku kedelai lokal non transgenik.

Kehadiran RKG dalam UFF 2018 ini merupakan prakarsa Direktorat P2HTP Kementerian Pertanian RI. Hal ini membuktikan keseriusan pemerintah untuk mengangkat kedelai lokal di kancah internasional, khususnya untuk mengangkat _branding produk olahan berbahan baku kedelai lokal non transgenik_.

rkg ubud 2Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Ir. Edhie Sudaryanto, M.M. mengatakan bahwa UFF 2018 ini merupakan kesempatan bagus bagi RKG untuk mengevaluasi produknya. UFF adalah even international yang diikuti peserta dan pengunjung manca negara. Even ini sekaligus juga menjadi ajang promosi kedelai lokal non transgenik yg diproduksi petani.

“Kebangkitan kedelai lokal tidak hanya tergantung dari peningkatan produksi, tetapi harus dilakukan terintegrasi hulu hilir. Edukasi terhadap masyarakat menjadi kata kunci keberhasilan pengembangan kedelai lokal”, Edhie menambahkan.

“Bangsa Indonesia patut berbangga karena memiliki tempe sebagai warisan leluhur yang diakui dunia. Pada saat yang sama, kita harus malu, karena hampir semua tempe berbahan baku kedelai impor transgenik. Tempe kita dijajah negara lain. Nah, even UFF 2018 ini kesempatan bagus untuk memperkenalkan kedelai lokal non transgenik di mata internasional. Sesuai temanya, Generasi Inovasi, kita berharap inisiasi dan inovasi yang telah digagas RKG dapat ditumbuhkembangkan oleh generasi muda. Konsep yang diinisiasi RKG merupakan role model yang dapat mempercepat pengembangan kedelai lokal”, kata Edhie Sudaryanto mengakhiri perbincangan (wieds).

agribisnis kedelai 1Kedelai merupakan komoditas prioritas nasional dan unggulan daerah Kabupaten Grobogan. Sepanjang tahun produksi kedelai di Grobogan sangatlah tinggi, sehingga mampu memasok untuk Jawa Tengah sebesar 38% dan 14% untuk skala Nasional. Tahun 2018 diperkirakan produksi kedelai di Grobogan akan meningkat cukup signifikan seiring dengan gerakan pengembangan tanan kedelai 100.000 Ha di Kabupaten Grobogan untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan swasembada kedelai.

Permintaan akan kedelai nasional terus meningkat sepanjang tahunnya, tetapi hal ini tidak diikuti dengan peningkatan produksi kedelai. Akibatnya 70% kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dari kedelai impor.

Tidak berkembangnya industri kedelai ini, terutama dilatarbelakangi karena fluktuatifnya harga kedelai di tingkat petani, apalagi pada saat musim panen raya tiba, jumlah pasokah kedelai di pasar sangat tinggi menyebabkan harga kedelai jatuh sehingga petani merasa rugi dan enggan untuk menanam kedelai kembali. Sangat diperlukan penanganan pascapanen dan pasar yang bagus untuk menjaga stabilitas harga kedelai serta memotivasi petani untuk tetap membudidayakan kedelai secara berkelanjutan _(sustainable)_.

Dilatarbelakangi hal tersebut di atas, maka Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) menyelenggarakan FGD mengenai Pengembangan Potensi Kedelai sebagai Subyek Komoditi Sistem Resi Gudang (SRG) dan Pasar Lelang Komoditas di Aula RKG (Selasa, 3/04/2018).

FGD dipimpin oleh Kepala Biro BAPPEBTI Ir.Dharmayugo Hermansyah,M.sc dan narasumber dari Tenaga Ahli Dr. Tri Yuni Hendrawati. Hadir pada acara tersebut unsur dari Pemda Kabupaten Grobogan : Kepala Dispertan bersama staf, Disperindag, Dinas Koperasi, BAPPEDA, dan Kabag. Perekonomian. Acara juga dihadiri perwakilan dari Bulog Sub Divre Semarang, Perbankan, Jamkrindo, Pengelola SRG dan Poktan Kedelai Grobogan.

agribisnis kedelai 2Dalam sambutannya, Kepala Biro BAPPEBTI KEMENDAG, Dharmayugo Hermansyah menjelaskan bahwa Sistem Resi Gudang (SRG) menjadi sangat penting bagi petani dan pedagang komoditas hasil pertanian termasuk kedelai karena resi gudang merupakan dokumen bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang. Resi gudang ini dapat digunakan sebagai agunan karena resi itu dijamin oleh komoditas tertentu yang berada dalam pengawasan gudang yang terakreditasi. Besarnya kredit yang dapat diperoleh dari resi gudang sebagai agunan adalah 70% dari nilai komoditas yang tersimpan di gudang dengan suku bunga sekitar 6% per tahun.

“Penyimpanan komoditas kedelai dengan memanfaatkan SRG merupakan alternatif yang harus dilakukan dalam membantu petani, pengumpul, pedagang kedelai maupun industri pengguna dan pengolahan kedelai untuk menjaga harga ketika panen raya, yakni dengan *mekanisme tunda jual* yang menguntungkan petani. Yakni petani dapat tetap mendapatkan modal untuk budidaya selanjutnya meski kedelainya disimpan di gudang SRG dan mengeluarkannya bila harga bagus. Sangat diperlukan agar kedelai masuk menjadi salah satu komoditas yang dapat diresigudangkan,” Hermansyah menambahkan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Edhie Sudaryanto dalam diskusi menyampaikan pentingnya mendukung segera terwujudnya swasembada kedelai karena hampir 100% TEMPE, TAHU dan produk olahan kedelai lain yang ada di Indonesia berbahan baku Kedelai Impor GMO hasil rekayasa genetik, padahal kita memiliki kedelai lokal NON GMO yang pasti lebih fresh, aman dan sehat dikonsumsi.

Beberapa alasan mengapa harus memilih kedelai lokal juga dijelaskan oleh Edhie. Pertama, Kedelai Lokal merupakan produk Petani Indonesia yang semakin tersingkirkan karena hegemoni Kedelai Impor produksi Petani Luar Negeri. Kedua, Kedelai Lokal lebih fresh (lebih segar) karena hasil panen baru, sedangkan kedelai impor biasanya simpanan lama di gudang. Ketiga, karena kandungan protein Kedelai Lokal Varitas Grobogan sangat tinggi (43,9%). Selanjutnya yang paling penting adalah bahwa Kedelai impor umumnya GMO (transgenik), sedangkan Kedelai Lokal Non GMO, sehingga sudah pasti aman dikonsumsi manusia.

“Harga kedelai lokal saat ini tidak wajar, dimana harga kedelai lokal NON GMO harganya sama atau hampir sama dengan kedelai impor GMO. Pemerintah sendiri sebenarnya Tahun 2016 telah menerbitkan Permendag 63/M-DAG/PER/9/2016 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dimana Harga Acuan Penjualan di Konsumen dimakan harga Kedelai Lokal di Tingkat Petani Rp. 8.500/kg dan di Tingkat Konsumen Rp. 9.200/kg, sedangkan harga Kedelai Impor di Tingkat Petani Rp. 6.660/ kg dan di Tingkat Konsumen Rp. 6.800/kg. Hanya saja, peraturan ini belum optimal diaplikasikan di tingkat petani maupun pedagang. SRG menjadi sabgat penting bagi petani dan pedagang komoditas kedelai di Grobogan,” Edhie menambahkan.

Edhie mengharapkan komoditas kedelai segera bisa masuk menjadi komoditas yang dapat diresigudangkan tahun 2018 agar pendapatan petani kedelai meningkat. Sangat diperlukan sistem resi gudang yang dapat mengatasi persoalan ketersediaan komoditas yang berkualitas dan kontinu, fluktuasi harga, devisa negara dan sekaligus sebagai alternatif sumber pendanaan bagi para petani kedelai.

Sebagai Tenaga Ahli BAPPEBTI pada FGD ini, Dr. Tri Yuni Hendrawati, menyimpulkan bahwa Grobogan sebagai sentra kedelai nasional dan tahun 2018 ini ada pertanaman kedelai seluas 100.000 Ha menyebabkan sangat pentingnya segera dilaksanakan penyimpanan komoditas kedelai dengan memanfaatkan SRG yang merupakan alternatif dan trobosan dalam membantu petani, pengumpul, pedagang kedelai maupun industri pengguna dan pengolahan kedelai untuk tunda jual dan mendapatkan modal usaha. Tetapi terdapat hal-hal yang harus diperhatikan mengenai persyaratan barang yang dapat disimpan di SRG diantaranya : pertama, memiliki daya simpan paling sedikit 3 (tiga) bulan, untuk kedelai kadar air pada saat kedelai disimpan 11-12%. Kedua, memenui standar mutu tertentu (SNI). Ketiga, penetapan biaya-biaya dalam kompoben SRG (biaya transportasi dan penyimpanan). Terakhir, jumlah minimum barang yang disimpan (untuk kedelai disimulasikan untuk 40 ton /3 bulan penyimpanan) (wieds).

kunjungan kuninganDinas Pertanian Kabupaten Grobogan dengan Program Pengembangan Kedelai Sistem Methuknya menjadi suatu magnet tersendiri untuk dikunjungi dari berbagai daerah. Setelah sebelumnya kedatangan tamu dari Pulau Sumatra yaitu Provinsi Jambi dan Lampung, kali ini giliran Kelompok Tani Desa Cibulan Kecamatan Cidahu Kabupaten Kuningan melakukan Studi Banding ke Kabupaten Grobogan untuk mempelajari agribisnis kedelai dari hulu sampai hilir.

Rombongan tiba di Rumah Kedelai Grobogan yang merupakan tempat pengembangan dan pembelajaran kedelai lokal hari Jumat, 6 April 2018. Rombongan dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan Ir.H.Triasmi. Rombongan berjumlah 60 orang, terdiri dari Karyawan Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan, Camat Cidahu, Kepala Desa Cibulan, Gapoktan, Kelompok Tani serta Kelompok Wanita Tani Desa Cibulan.

Rombongan diterima oleh Kepala Dinas Pertanian Grobogan yang didampingi Kasi Tanaman Padi dan Serealia serta Kasi P2HP TP.

Dalam kunjungan ini rombongan mempelajari bagaimana cara pengembangan kedelai di Grobogan karena di Kuningan masih banyak kendala secara teknis budidaya sampai pemasaran kedelai lokal ini. Oleh karena itu, rombongan sangat antusias dalam mempelajari agribisnis kedelai dari hulu hingga hilir, dari proses budidaya sampai pemasaranya, dan juga penangkaran benihnya di Kabupaten Grobogan.

Kunjungan diawali dengan melihat unit – unit yang terdapat di Rumah Kedelai Grobogan, yaitu Seed Center, Rumah Tempe Hygiene, Promotion Center dan kebun percontohan tanaman kedelai varietas Grobogan. Kemudian acara dilanjutkan dengan paparan dan diskusi tentang Pengembangan Kedelai di Kabupaten Grobogan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Ir.Edhie Sudaryanto,MM.

Dalam Paparanya Edhie menjelaskan bahwa kedelai varietas lokal termasuk kedelai Varietas Grobogan identik dengan kedelai Non GMO yang dijamin lebih fresh dan aman dikonsumsi. Kedelai inilah yang digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan Tempe dan Tahu Hygiene serta prroduk olahan kedelai lainnya di RKG ini.

“Dengan adanya potensi wisata yang ada di Kabupaten Kuningan, saya yakin jika dikembangkan tempe dan tahu berbahan baku kedelai lokal Non GMO, maka pasarrnya akan ramai dan cepat berkembang”, Edhie menandaskan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan, Ir.H.Triasmi dalam sambutannya menyatakan Kabupaten Kuningan, terutama Desa Cibulan akan mencontoh metode yang telah diterapkan dan dikembangkan di Kabupaten Grobogan.

“Luas Tambah Tanam Kedelai di Kabupaten Kuningan setiap tahunnnya hanya sekitar 500 ha. Tahunn 2018 ini oleh Dirjen Tanaman Pangan ada penambahan LTT seluas 800 ha. Yang 400 ha berada di Lahan Gapoktan Desa Cibulan, merupakan lahan bekas galian. Kami berharap kedelai dapat tumbuh baik di Cibulan,” Triasmi menjelaskan.

Rombongan pada kesempatan ini juga diajak untuk melihat dan meninjau secara langsung tanaman Kedelai Varietas Grobogan yang dibudidayakan oleh Petani di Desa Jipang Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan serta melihat proses pembuatan benih kedelai di UD. Sujinah Kecamatan Pulokulon (IP).

alsintanSebagai bahan pangan pokok sumber karbohidrat, beras dipandang sebagai komoditas strategis bagi bangsa Indonesia, sehingga ketersediaan beras perlu terus dijaga kestabilannya. Peningkatan produksi beras tidak hanya terbatas pada peningkatan produksi pada tahap prapanen _(on farm)_, tetapi juga melalui perbaikan pada cara penanganan pascapanen _(off farm)_. Permasalahan utama dalam produksi beras nasional adalah tingginya kehilangan hasil (susut) selama penanganan pascapanen.

Berbagai upaya dan cara produksi padi hanya bisa dinaikkan sebesar 8,04 persen, sementara padi yang hilang percuma karena kesalahan prosedur pengelolaan pasca panen justru lebih dari itu yaitu mencapai 12 -14%. Seandainya angka kehilangan panen tersebut bisa dipangkas beberapa persen saja dan target peningkatan produksi bisa terwujud maka produksi beras nasional akan melonjak banyak. Bahkan kalau produksi padi tidak lagi bisa dinaikkan (karena banjir atau faktor lain), asalkan kita bisa menekan angka kehilangan panen maka produksi beras nasional akan tetap bisa meningkat.

Dalam upaya menekan angka kehilangan hasil panen padi, maka Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan telah mengadakan *Pelatihan Penanganan Pascapanen Padi* untuk Petugas dan Petani se Kabupaten Grobogan dengan tujuan optimalisasi penggunaan alsintan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan alsintan untuk mengurangi susut hasil panen dan menambah nilai (daya saing) komoditas.

Pelatihan dilaksanakan sebanyak 3 (tiga) gelombang, yaitu tanggal 20 Maret 2018 di Kecamatan Gubug, tanggal 26 Maret 2018 di Kecamatan Toroh dan tanggal 28 Maret di Kecamatan Kradenan.

Pelatihan diikuti oleh kurang lebih 120 orang petugas dan petani padi se – Kabupaten Grobogan. Sebagai narasumber dalam pelatihan tersebut yaitu: Kasi P2HP TP, Nur Widiastuti, S.Si., M.Si., Kasi Tanaman Padi dan Serealia ., Sis Susmaedi, SP. dan Petugas Susut Hasil Kabupaten Grobogan.
Dalam pelatihan tersebut dipelajari kegiatan pascapanen yang meliputi proses pemanenan dan perontokan padi, pengeringan gabah, penggilingan dan penyimpanan beras yang baik dan benar.

Widiastuti dalam penjelasannya menyebutkan bahwa berbagai tahapan proses pengelolaan pasca panen yang menyebabkan ‘lenyapnya’ padi perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah tahap perontokan padi. Angka kehilangan yang mencapai 4,8 % terlalu banyak bila dibanding dengan upaya peningkatan produksi yang sangat susah diwujudkan. Oleh karena itu, cara-cara perontokan padi model tradisional, yang terbukti membuat banyak padi hilang percuma perlu segera ditinggalkan dan diganti dengan teknologi baru yang lebih efisien dan baik. Para petani perlu lebih banyak mempergunakan thresher dan alat perontok moderen yang terbukti bisa menekan angka kehilangan panen (wieds).

Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

Twitter Dispetan

Rumah Kedelai Grobogan

Kedelai Grobogan

Galeri Foto

Lokasi Kantor

**Go to top**

**Joomla! Debug Console**

**Session**

**Profile Information**

**Memory Usage**

**Database Queries**