Pemilihan Petani Muda

Pendaftaran :
5 mei 2018 – 17 Agustus 2018
Info Lengkap kunjungi http://www.dutapetanimuda.id/

petani muda 1

Selamat Datang di Website Resmi Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan

tembakau groboganPrestasi kembali diraih oleh Kelompok Tani di Kabupaten Grobogan,kali ini giliran Kelompok Tani Sariro Utomo I Desa Kenteng Kecamatan toroh Kabupaten Grobogan. Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah memberikan penghargaan pelaku pembangunan perkebunan tingkat Provinsi Jawa Tengah pada lomba kategori Kelompok Tani komoditas Tembakau untuk Kelompok Sariro Utomo I Desa Kenteng Kecamatan Toroh.Pada kesempatan tersebut.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Ir.Yuni Astuti, MA yang langsung memberikan penghargaan tersebut pada hari kamis,18 Januari 2017 bertempat di Gedung B Lt.II Distanbun Provinsi Jateng,dan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Tri Wahono Saputro,SP yang ikut serta mendampingi Kelompok Tani Sariro Utomo I .

Kelompok Tani Sariro Utomo I yang di ketuai Sudibyo dan beranggotakan 218 orang ini memiliki luas lahan 50 ha tanaman tembakau yang pada saat ini memiliki produktivitas tembakau ranjang kering antara 1,2 ton – 1,8 ton per ha,dengan rata-rata sekitar 1,5 ton per ha. “Harapanya pemerintah lebih memperhatikan pasca panen kami sebagai petani utamanya pada saat penjualan dan juga kerjasama dengan parbikan”,Kata Sudibyo.

Menurut Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Tri Wahono Saputro,SP pihaknya sudah secara intensif melakukan pembinaan kepada para petani tembakau yakni dalam hal budidaya hingga pemasaran ataupun kemitraan.”Sekarang perajangan tembakau sudah secara mekanis,tetapi petani masih sangat membutuh bantuan alat mesin pertanian utamanya Cultivator untuk pengolahan tanah”,Kata Tri Wahono.

Dengan penghargaan ini di harapkan petani tembakau Kabupaten Grobogan dapat lebih meningkatkan Kualitas nya dalam hal produksi tembakau dan tidak heran jika banyak perusahaan rokok besar yang berkerjasama dengan Kelompok Tani tembakau yang ada di Kabupaten Gorbogan. (IP)

award

Pemerintah Kabupaten Grobogan menganugerahkan penghargaan “ RUMAH KEDELAI AWARD ” Kepada Ganjar Pranowo, SH, M.IP, DR .Ir. Sumardjo Gatot Irianto, MS, DDA, Drs. Tjandra Mukti (Alm), Prof. Dr. Ir. Munif Ghulamahdi, MS , Prof. Dr. Atis Adisarwanto dan Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP. Penghargaan diserahkan langsung oleh Bupati Grobogan Hj.Sri Sumarni, SH, MM dalam acara Pembukaan Expo Grobogan Ekonomi Kreatif 2017 di Aun-alun Purwodadi Grobogan ( 30/12/2017).

Bupati Grobogan mengatakan penghargaan ini diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Grobogan Kepada Perorangan, Pejabat atau Petani, Peneliti, Tokoh Masyarakat dan Pelaku Usaha atas jasa-jasanya _mengembangkan kedelai lokal_ di Indonesia.

“Saya atas nama Pemkab Grobogan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Penerima Rumah Kedelai Award atas jasa-jasanya. Saya berharap Kedelai Lokal bisa bersaing hingga pasar internasional” pungkas Bupati.

Berikut ini adalah Profil singkat Penerima Penghargaan “ RUMAH KEDELAI AWARD “, yaitu =

  1. Ganjar Pranowo, Gubernur yang konsisten mendukung pengembangan kedelai lokal dan aktif mempromosikannya agar bias bersaing menghadapi dominasi kedelai impor di Indonesia.
  2. Sumardjo Gatot Irianto, Direktur Jenderal Tanaman Pangan yang mencetuskan ide branding kedelai lokal dan pengelolaan tata niaga kedelai hulu-hilir untuk mewujudkan swasembada kedelai di Indonesia.
  3. Tjandra Mukti (Alm), tokoh yang menjadi inisiator ditemukannya Kedelai Varietas Grobogan melalui seleksi populasi yang akhirnya ditetapkan menjadi kedelai unggul nasional tahun 2008.
  4. Titis Adisarwanto, peneliti kedelai tropika yang melakukan pemuliaan kedelai lokal menjadi kedelai unggul nasional dengan nama Kedelai Varietas Grobogan.
  5. Munif Ghulamahdi, Guru Besar Institut Pertanian Bogor penemu teknologi kedelai jenih air untuk mendukung swasembada kedelai nasional.
  6. Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian yang meningkatkan produksi padi, jagung dan berhasil mengelola importasinya serta menggagas pencapaian target swasembada kedelai di tahun 2018 melalui Upsus Pajale.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Ir. Edhie Sudaryanto, MM., dalam kesempatan lain menjelaskan bahwa Penganugerahan Rumah Kedelai Award ini diharapkan dapat mempercepat proses edukasi publik dan mendorong kecintaan masyarakat terdadap kedelai lokal di Indonesia.

Edhie menambahkan, Penganugerahan Rumah Kedelai Award oleh Pemerintah Kabupaten Grobogan ini memiliki beberapa tujuan penting dalam membranding kedelai lokal. Tujuan pertama, mempercepat tercapainya tujuan edukasi publi terhadap kedelai lokal. Kedua, mendorong kecintaan masyarakat untuk mengkonsumsi kedelai lokal. Ketiga, mendorong terwujudnya kemandirian pangan nasional dan rasa cinta Tanah Air. Tujuan yang terakhir yaitu untuk mendorong terbentuknya Rumah Kedelai di Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia (bonie).

panen raya 1Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (BALITBANG) Kementrian Pertanian Republik Indonesia Dr.Ir.Muhammad Syakir, M.S., melakukan kunjungan kerja dalam rangka panen padi di Jawa Tengah. Panen raya padi seluas lebih 250 ha dilakukan di Desa Ngeluk Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan hari ini (11/01/2018).

Pada acara tersebut dihadiri juga oleh Kepala Balai Besar Tanaman Padi Dr.Ir.Moh. Ismail Wahab, M.Si., Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Dr.Ir. Haris Syahbuddin, DEA., Kepala BPTP Jawa Tengah Dr.Ir. Harwanto,M.Si., Bulog Jawa Tengah Rahayu Diyanto, Dandim 0717/Purwodadi Letkol. Arm. Teguh Cahyadi, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Ir. Edhie Sudaryanto, MM. dan Jajaran Muspika Kecamatan Penawangan.

Pada Musim Tanam I ini, produksi padi di Kabupaten Grobogan diperkirakan surplus dan panen terus berlanjut di Jawa Tengah. Kini giliran petani Desa Ngeluk, Kecamatan Penawangan mulai panen raya. Lahan yang siap dipanen hari ini seluas 60 Ha. Terletak pada hamparan tanaman padi seluas kurang lebih 278 Ha milik 3 Kelompok Tani, yaitu Kelompok Tani Subur Makmur (105 ha), Suka Karya (88 ha) dan Suber Makmur (85ha). Sebagian besar varietas yang ditanam adalah jenis Ciherang dengan rata-rata produksi 7-9 Ton/Ha Gabah Kering Panen (GKP).

Petani di Desa Ngeluk merasa sangat beruntung karena memiliki sumber air cukup melimpah untuk mengairi lahan pertaniannya yang bersumber dari Waduk Kedungombo. Indek Pertanaman (IP) disini bisa mencapai 3 kali dalam setahun. Pola tanam yang biasa mereka terapkan adalah padi-palawija-padi atau padi-padi-palawija.

panen raya 2Penggunaan alsintan modern pada saat panen, yaitu dengan menggunakan Combine Harvester terbukti lebih efisien. Menurut petani desa Ngeluk, Combine dapat mengatasi kelangkaan tenaga kerja yang biasa terjadi di desa, serta meminimalisir kehilangan hasil.

“Kita harus optimis dalam mewujudkan Swasembada Pangan di negara kita sendiri. Sinergisasi dalam pendampingan yang didukung infrastruktur dan alat pertanian yang telah di bantukan, akan dinikmati petani dengan tiada hari tanpa tanam tiada, hari tanpa panen, ” Ujar Muhammad Syakir.

”Saat ini petani sudah mulai panen padi, jadi pemerintah sebaiknya tidak perlu impor beras yang bisa berdampak pada harga panenan padi,” kata Ketua Gapoktan Suko Makmur Desa Ngeluk Suwaji.

Menurutnya, petani siap mendukung program tiada hari tanpa panen yang dicanangkan Kementerian Pertanian. Sebagai bukti, panen yang dilakukan saat ini, waktunya lebih awal dari biasanya.

Harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini ditingkat penebas sebesar Rp 4.500,00 dan harga ditingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 5.500,00 per kilogramnya. Sedangkan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah sebesar Rp 3.700,00 sehingga terjadi selisih harga sebesar Rp 1.800,00 per kilogramnya dari HET Pemerintah.

Dalam acara Kunjungan Kerja ini, Kepala Balitbang Pertanian Kementrian Pertanian Muhammad Syakir juga menyerahkan bantuan benih padi Varietas Impari 30 secara simbolis pada petani Desa Ngeluk.

”Ini adalah varietas padi terbaru. Kelebihan varietas ini antara lain : umurnya lebih pendek, lebih tahan hama dan genangan air, serta hasilnya lebih tinggi,” kata Syakir.

Ia menambahkan bahwa dalam rangka menyukseskan program tiada hari tanpa panen, pihaknya akan meningkatkan bantuan peralatan pertanian pada petani, yaitu mulai dari alat untuk persiapan lahan, semisal traktor, pompa air hingga peralatan panen dan pasca panen. (ip)

tempe 1Pemerintah Kabupaten Grobogan menerima Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai Pemrakarsa pembuatan Tempe Terbesar. Tempe berukuran 7meter x 10 meter dengan ketebalan 4 cm menggunakan bahan baku Kedelai Lokal berhasil memecahkan Rekor Dunia. Pengakuan resmi tertulis itu diserahkan oleh Eksekutif Manajer Muda MURI, Sri Widayati kepada Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni, SH, MM Pada Pembukaan Expo Grobogan Ekonomi Kreatif 2017 di Alun-alun Purwodadi Grobogan, Kamis (30/11/2017).Penyerahan sertifikat MURI juga disaksikan oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, SH, M.IP, Dirjen Tanaman Pangan Kementan RI Dr. Ir Sumardjo Gatot Irianto, MS, DDA, Kadinas Pertanian Kabupaten Grobogan Ir. Edhie Sudaryanto, MM dan Tamu Undangan lainnya.

Eksekutif Manajer Muda MURI Sri Widayati Mengatakan, Tempe berukuran fantastis ini tak hanya menyandang predikat Rekor Nasional melainkan menembus Rekor Dunia. “Tempe kedelai raksasa di Grobogan ini mengalahkan rekor jenis serupa yang dibuat Pemkab Malang berukuran 6 meter x 9 meter,” katanya.

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyampaikan pembuatan tempe terbesar ini bertujuan mempromosikan kedelai lokal yang dibudidayakan petani Grobogan. Dengan adanya tempe terbesar ini dia berharap varietas kedelai Grobogan bisa bersaing hingga pasar internasional.

tempe 2Langkah ini untuk membuktikan bahwa kualitas varietas kedelai petani Grobogan memang jempolan. Dengan kata lain kedelai Grobogan non GMO yang sehat dikonsumsi. Untuk lahan kedelai kami siap bekerjasama dengan Perhutani dari lahan seluas 20.000 hektar menjadi 100.000 hektar,” kata Bupati.

Kadistan Edhie Sudaryanto Mengatakan Tempe raksasa ini jika dipotong akan menjadi 21.000 potong tempe kemasan normal ukuran 6 sampai 10 cm. Tempe raksasa dibuat dalam kurun waktu 4 hari membutuhkan bahan baku kedelai lokal sebanyak 2 ton dan saat jadi tempe bisa seberat 3,6 ton. Pengerjaan dilakukan oleh 75 orang Perajin tempe, PPS (Penyuluh Pertanian Swadya), dan Pegawai Dinas Pertanian.

Sementara Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan Pemerintah berkomitmen melindungi petani lokal melalui sejumlah kebijakan yang dilakukan. Selain itu ia juga meminta sejumlah pihak untuk lebih kreatif mengelola komoditas kedelai. Sehingga yang dijual bukan hanya bahan baku kedelai mentah melainkan juga berbagai olahannya dengan kemasan yang lebih menarik untuk nilai jual yang lebih tinggi.

“Kita akan terus memberdayakan petani lokal dan berupaya meningkatkan kesejahteraannya,” ucap Gubernur.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto berharap dengan adanya prestasi dari Muri ini petani mulai merubah mindset penjualan kedelai. Gatot menekankan, pengembangan produk kedelai tidak bertumpu hanya nilai jual komoditas itu sendiri tapi brand dari produk olahannya.

“Yang kita mau kedelai ini jadi produk olehan yang punya brand, bukan (hanya) komoditas, bagi saya branding jauh lebih strategis, karena mengangkat harkat pendapatan petani, begitu harganya baik itu flow produksi akan mengalir,” pungkas Gatot. (Bonie)

Vinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.xVinaora Nivo Slider 3.x

Twitter Dispetan

Rumah Kedelai Grobogan

Kedelai Grobogan

Galeri Foto

Lokasi Kantor

**Go to top**

**Joomla! Debug Console**

**Session**

**Profile Information**

**Memory Usage**

**Database Queries**