Color

foto

OPTIMALKAN PRODUKSI PERTANIAN, PPL LATIH PETANI BUAT BIOSAKA

OPTIMALKAN PRODUKSI PERTANIAN, PPL LATIH PETANI BUAT BIOSAKA

GUBUG---Ancaman Krisis pangan yang akan melanda dunia menjadi isu yang harus diantisipasi dengan serius oleh semua pihak, sebab pangan merupakan kebutuhan pokok yang sangat vital bagi perekonomian suatu negara.

Pemerintah dan semua pihak berupaya untuk meningkatkan produksi pangan guna secara mandiri memenuhi kebutuhan dalam negeri, menguatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perenomian nasional dan kesejahteraan petani itu sendiri. Namun demikian upaya ini akan jalan ditempat kalau dengan terobosan yang biasa-biasa saja, sehingga perlu pendekatan dengan cara baru atau inovasi yang tidak lagi mengandalkan pupuk kimia.

Berangkat dari hal tersebut, Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan menyelenggarakan pelatihan pembuatan Biosaka yang diikuti oleh Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan anggota gabungan kelompok tani (gapoktan) Sido Rejo Desa Kemiri Kecamatan Gubug sebanyak 21 orang, pada (1/12/2022).

BIOSAKA merupakan salah satu inovasi dalam pembuatan pupuk organik dari bahan rerumputan yang sudah diaplikasikan di beberapa daerah dengan hasil yang significant untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia. Biosaka adalah bahan dari larutan tumbuhan atau rerumputan yang diketahui mampu melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit dan mampu menekan penggunaan pupuk mencapai 50-90 persen.

Biosaka terdiri dari suku kata Bio dan Saka, Bio singkatan dari Biologi, dan Saka singkatan dari Soko Alam Kembali Ke Alam atau dari Alam Kembali ke Alam adalah inovasi yang telah dikembangkan oleh petani dari bahan baru-terbarukan yang tersedia melimpah di alam. Tanaman elisitor adalah suatu tanaman yang mengandung senyawa kimia yang dapat memicu respon fisiologi, morfologi dan akumulasi fitoaleksin, meningkatkan aktivasi dan ekspresi gen yang terkait dengan biosintesis metabolit sekunder.

Elisitor dapat menginduksi resistensi tumbuhan. Istilah ini diperkenalkan oleh Prof. Robert Manurung ahli ITB setelah mendapatkan informasi terkait penggunaan bahan Biosaka hasil temuan M. Anshar dari Blitar.  Seperti diketahui Biosaka sebelumnya dikira semacam hormone atau katalisator yang mampu mengurangi penggunaan pupuk dan mampu melindungi tanaman dari serangan hama penyakit.

Harmoko, PPL Desa Kemiri menyampikan bahwa inovasi Biosaka yang dilakukan petani Blitar ini, disaat serba sulit masih bisa memberi solusi terhadap pupuk. Biosaka terbuat dari rerumputan yang dicampur dengan air lalu dihancurkan, setelah itu bisa langsung di aplikasikan di lahan untuk semua jenis tanaman. Untuk pemilihan rumput harus memakai rumput yang sehat yang tidak tercampur bahan kimia dan harus diketahui masa pertumbuhan rumput berada di fase vegetatif atau generatif.

Ia pun menyarankan petani untuk mempelajari dan mencoba biosaka ini yakni bagaimana cara memilih jenis rumput, bagaimana meraciknya dan bagaimana menyemprotkan racikan ini ke tanamannya dan hal tersebut harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

“Biosaka sudah banyak diaplikasikan petani di seluruh Indonesia yang berdampak pada peningkatan produksi. Yang jelas biaya produksi budidaya jauh lebih efisien,” ujarnya.

“Kelebihan biosaka ini adalah efektifitas kinerja yang baik. Reaksi biosaka dapat dilihat dalam waktu 24 jam setelah aplikasi dan dapat digunakan pada seluruh fase tanaman, mulai dari benih sampai panen. Proses produksinya pun sangat cepat karena tidak menggunakan metode fermentasi yang biasanya memakan waktu paling cepat 1 mingggu,” jelasnya.

“Selain itu, cara penggunaannya mudah dan penggunaan dosis yang sangat sedikit, cukup 40 ml dicampur 15 liter air untuk satu kali penyemprotan untuk luasan 1.000 m2, atau 400 ml untuk 1 hektar tanaman padi. Penyemprotan dari mulai tanam sampai panen dilakukan sekitar 7 kali. Dan yang lebih penting, penggunaan biosaka dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sehingga jauh menghemat biaya produksi,” tambah Harmoko.

Ahmadi, peserta pelatihan pembuatan biosaka menuturkan pihaknya mengapresiasi informasi dan inovasi baru yang disampaikan oleh PPL. Menurutnya Biosaka ini sangat tepat untuk diaplikasikan anggota gapoktan karena pupuk subsidi yang berkurang dan kondisi tanah sawah yang semakin rusak akibat pemupukan kimia.

“Menurut saya Biosaka sudah memenuhi kriteria yaitu aman, murah dan ramah lingkungan. Ini adalah solusi yang bisa dikembangkan untuk para petani dan bisa digunakan oleh yang lainnya,” bebernya.

Ia berharap, petani di Desa Kemiri dapat mengaplikasikan Biosaka pada tanaman, sehingga mampu menekan biaya produksi, ramah lingkungan dan produksi meningkat. “Kami sangat mendukung program pemerintah untuk gethok tular ke petani lain agar mereka juga mau meenggunaan Biosaka,” pungkasnya. (admin1-Dispertan)

 

Comments :

Login to Comment

Galeri Foto