Color

foto

TEKNOLOGI CSA SUKSES GENJOT PRODUKTIVITAS PADI DI GROBOGAN

TEKNOLOGI CSA SUKSES GENJOT PRODUKTIVITAS PADI DI GROBOGAN

Gubug – Dampak El-Nino benar-benar dirasakan petani terutama musim kemarau yang panjang dan curah hujan yang berkurang drastis menyebabkan beberapa wilayah mengalami kekeringan bahkan tak sedikit yang terjadi gagal panen. Namun, Petani dan Penyuluh pertanian masih bisa melakukan panen padi bersama di lahan kelompok tani Tani Sari Desa Papanrejo Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. Dengan Memanfaatkan teknologi Pertanian Cerdas Iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) dari Kementerian Pertanian (Kementan), para petani memperoleh hasil panen yang memuaskan, (12/09/2023).


“Bersyukur di tengah kondisi kekurangan air kita masih bisa panen bersama. Ini tentu saja tidak lepas dari dukungan semua pihak,” kata Dam Kholiq ketua kelompok tani Tani Sari Desa Papanrejo Kecamatan Gubug di tengah-tengah kegiatan ubinan padi.


Ia mengaku sangat puas dengan kegiatan penerapan teknologi CSA melalui demplot di lahan sawah. “Dari kegiatan Demplot Sekolah Lapang/ Laboratorium Lapang kelompok tani Scalling Up ini, anggota poktan dapat belajar banyak hal dari teknologi CSA,” tuturnya


Ia menambahkan, Teknologi yang disampaikan meliputi tanam jajar legowo, penentuan waktu tanam dengan kalender tanam, pembuatan pupuk organik padat dan cair, pembuatan pestisida nabati, penggunaan perangkat uji tanah sawah (PUTS) untuk penggunaan pupuk berimbang, teknologi  hemat air AWD (Alternate Wetting and Drying), dan pengendalian OPT padi secara terpadu.  


“Hasil ubinan menunjukkan adanya peningkatan produktivitas padi, alhamdulillah harga jual gabah kering panen juga bagus, kami sangat senang,” imbuhnya dengan wajah sumringah.


Penyuluh pertanian Kecamatan Gubug, Harmoko menuturkan banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh petani dari pemanfaatan CSA ini, di antaranya adalah sumbangsih para petani untuk menurunkan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.


Dari segi produktivitas, Harmoko menambahkan pemanfaatan teknologi CSA SIMURP sukses meningkatkan produksi rata-rata hingga 26 persen. Yakni jika biasanya produksi rata-rata per 1 hektar lahan persawahan menghasilkan 6.18 ton, dengan CSA SIMURP ini produksi rata-ratanya mencapai 8.72 ton/hektar.


Ia berharap program CSA yang telah dilaksanakan di Desa Papanrejo bisa ditularkan kepada seluruh petani di wilayah Grobogan. Diakui Harmoko, pertanian cerdas iklim ini terbukti mampu membantu para petani untuk meningkatkan produksi padinya.


“Melalui demplot padi CSA SIMURP ini saya berharap petani di Papanrejo dan desa lainnya bisa melakukan transfer knowledge pada gapoktan dan kelompok petani yang lain. Syukur-syukur CSA ini bisa direplikasi di wilayah lain, sehingga petani di Papanrejo memahami manfaat dari program CSA yang semuanya serba efisien,” ujarnya.


Kepala Bidang Penyuluhan, Sarana dan Prasarna Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Wakid Mutowal mengatakan, produktivitas  pertanian di Tanah Air akan terancam jika pemerintah tidak segera mengambil langkah antisipasi kemarau panjang dan El Nino yang terjadi.


Melalui program CSA SIMURP ini, pihaknya berhadap produksi dan produktivitas petani di Grobogan bisa teratasi.


Ia menambahkan tantangan Pembangunan pertanian, climate change, degradasi lahan, saprodi terbatas, pupuk kimia mahal, produksi tidak efisien dan menurun.


“Program SIMURP utamanya ditujukan untuk membangun resiliensi ketangguhan pertanian Indonesia terhadap Climate Change,” imbuhnya.


“Oleh karena itu, di dalam SIMURP disajikan berbagai inovasi teknologi yang betul-betul adaptif dan mitigatif terhadap perubahan iklim yang terjadi. Juga mampu beradaptasi dari cekaman biotik yaitu tahan hama penyakit, maupun abiotik yaitu kekeringan dan banjir serta intrusi air laut,” pungkasnya. (Harmoko-Dispertan)

 

Comments :

Login to Comment

Galeri Foto